Single Post

Berjiwa Ksatria

Ketika dikoreksi segera memperbaiki. Ketika bersalah segera kembali. Ketika dinasehati segera mengerti. Itulah seorang ksatria yang sejati. Pengakuan terhadap kesalahan bukan berarti merendahkan harga diri. Sebaliknya, itulah bukti keberanian yang tak tertandingi. Mau mengaku salah, itu artinya mau menjadi lebih baik lagi.

Nabi Muhammad shallallahu a’laihi wasallam, manusia terbaik yang paling pemberani. Ketika kebenaran ada pada sahabatnya, beliau mengakui tanpa mengingkari.

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ إِذَا حَدَّثْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ أَمْرِ دِينِكُمْ فَخُذُوا بِهِ وَإِذَا حَدَّثْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ دُنْيَاكُمْ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ

“ٍSesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, jika aku memerintahkan kalian dengan sesuatu dari urusan agama, maka laksanakanlah. Jika aku memerintahkan kalian dengan sesuatu dari urusan dunia berdasarkan pendapatku, maka (ketahuilah) bahwa aku hanyalah seorang manusia” (HR Ibnu Hibban)

Dalam riwayat yang lain disebutkan,

أنتم أعلم بأمور دنياكم

“Kalian lebih mengerti tentang urusan dunia kalian”

Ada pengakuan bahwa beliau juga seorang manusia. Lupa dan salah, tak dipungkiri adanya. Ketika mendapati kebenaran pada orang lain, beliapun menerimanya tanpa merasa gengsi sedikitpun.

Lantas, bagaimana dengan kita semua?

Diary BMS, Sabtu 29 Rabi’ul Awwal 1437 H / 09Januari 2016 M

BBM : 5C9A0865
Whatsapp : 0853-6491-5817
Twitter : @MenujuSurga_BMS
Telegram : @bersamamenujusurga
Facebook : Bersama Menuju Surga
Line : http://line.me/ti/p/%40utu8587h

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *